Renungan Pembukaan Sidang Majelis Jemaat dan evaluasi semester 1 GMIT Moria, sabtu 25 Juli 2026.
Bacaan Alkitab : Matius 13:31–35
Salam Damai Sejahtera
Shalom… Apa kabar ibu bapa majelis jemaat dan barisan penatalayanan jemaat Moria Liliba yang hadir saat ini?
Saudara-saudari, para Penatua, Diaken, Pengajar, Pendeta, dan seluruh Majelis Jemaat yang hari ini dipanggil untuk memasuki Sidang Majelis dan evaluasi semester 1.
Sebelum kita berbicara tentang evaluasi program, perubahan anggaran, dan sejumlah kegiatan, atau keputusan-keputusan gerejawi, firman Tuhan hari ini mengajak kita kembali kepada pertanyaan yang paling mendasar:
Mengapa kita melayani? Dan bagaimana Allah bekerja melalui pelayanan kita?
Sering kali, tanpa kita sadari, kita mengukur keberhasilan pelayanan dengan angka-angka. Berapa banyak jemaat yang hadir. Berapa besar persembahan. Berapa banyak gedung yang dibangun. Berapa banyak kegiatan yang dilaksanakan.
Tetapi Yesus mengajarkan ukuran yang berbeda:
- Kerajaan Allah tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
- Kerajaan Allah dimulai dari kesetiaan.
- Kerajaan Allah bertumbuh melalui ketaatan.
- Kerajaan Allah bekerja melalui orang-orang yang rela melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar.
Itulah makna dua perumpamaan yang kita baca hari ini.
Latar Belakang Teks (Matius 13:31–35)
Bacaan ini adalah nats yang akan direnungkan di minggu 26 Juli 2026 dalam ibadat bulan pendidikan GMIT. Ada catatan penting bagi kita semua. Ketika Yesus menyampaikan perumpamaan ini, banyak orang Yahudi mengharapkan Mesias datang dengan kuasa politik yang besar.
- Mereka menantikan revolusi.
- Mereka menginginkan kemenangan yang segera terlihat.
Namun Yesus justru berbicara tentang biji sesawi dan ragi.
Mengapa?
Karena Allah bekerja dengan cara yang sering kali tidak disadari manusia:
- Allah lebih tertarik pada akar daripada daun.
- Lebih mengutamakan kesetiaan daripada popularitas.
- Lebih menghargai proses daripada sensasi.
Itulah sebabnya pelayanan gereja juga tidak boleh diukur hanya dari apa yang tampak di luar. Pelayanan yang paling berharga sering kali adalah pelayanan yang tidak pernah masuk laporan tahunan.
Penjelasan Teks
Pertama, ayat 31–32: Bicara tentang penabur dan biji sesawi.
Seorang Majelis jemaat, pendeta, penatua, diaken, dan pengajar dipanggil menjadi penabur, bukan pencari pujian.
Yesus berkata:
“Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi yang diambil dan ditaburkan orang…”
Perhatikan bahwa seseorang menaburkan benih. Sesudah itu ia tidak lagi menjadi pusat perhatian. Yang bekerja selanjutnya adalah Allah.
Demikian pula pelayanan seorang Pendeta, Penatua, Diaken, dan Pengajar. Kita sering tidak melihat hasil pelayanan kita secara langsung:
- Ada doa yang tidak segera dijawab.
- Ada keluarga yang tetap bergumul.
- Ada anak muda yang masih menjauh dari gereja.
- Ada warga jemaat yang belum berubah.
Namun panggilan kita bukan membuat benih itu bertumbuh. Panggilan kita adalah tetap setia dan taat menanamnya.
Rasul Paulus berkata:
“Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.” (1 Korintus 3:6)
Maka jangan pernah merasa sia-sia ketika:
- Mengunjungi satu orang sakit,
- Mendoakan satu keluarga,
- Menghibur satu janda,
- Mengajar lima anak sekolah minggu,
- Mendengar keluh kesah seorang pemuda.
Boleh jadi kita merasa itu kecil. Tetapi di hadapan Tuhan, itulah pelayanan Kerajaan Allah.
Refleksi dan Aplikasi
1. Kesetiaan Lebih Penting daripada Kebesaran Pelayanan (Ayat 31–32)
Biji sesawi itu kecil, tetapi memiliki kehidupan di dalamnya.
Hari ini gereja sering tergoda mengejar pelayanan yang besar: program besar, acara besar, media sosial besar. Tetapi Tuhan lebih dahulu bertanya: “Apakah engkau setia?”
Dalam penahbisan majelis, yang ditanyakan Tuhan bukan: “Apakah engkau mampu?”
Tetapi: “Apakah engkau bersedia taat?”
Kesetiaan adalah ukuran utama seorang pelayan Kristus:
- Majelis yang setia datang mengunjungi jemaat tanpa diminta.
- Majelis yang setia mendoakan warga setiap hari.
- Majelis yang setia menjaga perkataannya.
- Majelis yang setia menjadi teladan di rumahnya.
Barangkali tidak ada yang memberi tepuk tangan, tetapi Tuhan melihat. Dan Kerajaan Allah sedang bertumbuh melalui kesetiaan itu.
2. Jadilah Ragi yang Mengubah dari Dalam (Ayat 33–35)
Yesus berkata:
“Kerajaan Allah seperti ragi…”
Ragi tidak bekerja dari luar. Ia mengubah dari dalam. Inilah panggilan seorang majelis.
Tugas kita bukan sekadar:
- Mengatur administrasi dan pengelola perbendaharaan gereja.
- Jabatan organisasi sebagai pemimpin rapat.
- Perencana dalam menyusun program pelayanan jemaat.
- Pengawas dan pemeriksa keuangan kas jemaat.
Tetapi menghadirkan perubahan rohani:
- Membawa damai ketika ada konflik.
- Membangun pengharapan ketika ada keputusasaan.
- Menghadirkan kasih ketika ada perpecahan.
- Menjadi suara kebenaran ketika ada ketidakadilan.
Majelis bukan hanya pemegang jabatan gerejawi. Majelis adalah saksi Kristus.
- Kalau seorang pendeta/penatua masuk ke sebuah rumah, seharusnya keluarga itu merasakan damai.
- Kalau seorang diaken datang, orang-orang marjinal yang merasa miskin secara materi merasakan kepedulian.
- Kalau seorang pengajar berbicara, anak-anak semakin mencintai firman Tuhan.
Itulah ragi Kerajaan Allah.
Memasuki Sidang Majelis dan Evaluasi
Hari ini kita akan memasuki sidang majelis dan evaluasi pelayanan semester 1. Kita akan membahas dan mengevaluasi agenda pelayanan Januari–Juni 2026.
Mungkin ada perbedaan pendapat.
Mungkin ada kritik.
Mungkin ada usulan yang berbeda.
Tetapi marilah kita mengingat: Sidang Majelis bukan arena mempertahankan pendapat pribadi. Sidang Majelis adalah tempat kita bersama-sama mencari kehendak Kristus sebagai Kepala Gereja.
Karena itu, keberhasilan sidang bukan hanya diukur dari cepat atau lambatnya keputusan diambil, tetapi apakah Roh Kudus memimpin setiap keputusan itu.
- Jangan sampai kita memenangkan argumentasi tetapi kehilangan kasih.
- Jangan sampai kita menghasilkan program yang banyak tetapi kehilangan jiwa pelayanan.
Imbauan Pelayanan:
- Sebagai Pendeta & Penatua: Mari lebih rajin mengunjungi daripada menunggu dikunjungi.
- Sebagai Diaken: Mari lebih peka melihat orang yang membutuhkan daripada menunggu proposal bantuan.
- Sebagai Pengajar: Mari lebih tekun membentuk karakter daripada hanya menyampaikan materi.
- Sebagai Majelis: Mari menjadi orang pertama yang memberi teladan dalam ibadah, persembahan, pelayanan, kerendahan hati, dan pengampunan.
Sebab jemaat lebih banyak belajar dari kehidupan majelis daripada dari khotbah / pidato majelis.
Penutup
Saudara-saudaraku…
Mungkin pelayanan kita tampak kecil. Tidak pernah masuk berita, tidak pernah dipuji, tidak pernah viral.
Tetapi Yesus berkata: “Kerajaan Allah dimulai dari biji sesawi.”
Mungkin kunjungan kita hanya berlangsung tiga puluh menit. Doa kita hanya lima menit. Percakapan kita hanya sebentar. Tetapi Allah sanggup memakai kesetiaan kecil itu untuk mengubah hidup seseorang.
Mungkin kita tidak akan melihat seluruh hasilnya. Namun suatu hari nanti, ketika Kerajaan Allah dinyatakan dalam kepenuhannya, kita akan menyadari bahwa banyak pohon besar bertumbuh karena ada majelis-majelis yang setia menanam benih tanpa pernah mencari pujian.
Kiranya Sidang Majelis Jemaat hari ini menjadi pertemuan orang-orang yang rendah hati, taat kepada Firman, dipimpin oleh Roh Kudus, dan rela menjadi biji sesawi serta ragi bagi jemaat yang Tuhan percayakan.
Sebab gereja yang kuat bukan dibangun oleh program yang besar, melainkan oleh pelayan-pelayan yang kecil di hadapan Tuhan, tetapi besar dalam kesetiaan.
“Hendaklah setiap orang menganggap kami sebagai pelayan-pelayan Kristus dan sebagai pengelola rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari seorang pengelola ialah bahwa ia ternyata dapat dipercaya.”
(1 Korintus 4:1–2)
Biji sesawi dan ragi sama-sama “menghilang”. Biji harus dikuburkan di tanah, ragi harus larut ke dalam adonan. Keduanya tidak lagi menjadi pusat perhatian, tetapi justru dari “pengosongan diri” itulah kehidupan baru muncul.
Ini sejalan dengan spiritualitas Kristus dalam Filipi 2:5–11: pelayanan bukan soal menonjolkan diri, melainkan rela mengambil tempat sebagai hamba agar Kristus yang dimuliakan.
Prinsip ini sangat kuat sebagai fondasi spiritual sebelum kita masuk dalam sidang dan evaluasi agar setiap keputusan lahir dari kerendahan hati, bukan dari ego atau kepentingan pribadi.
Tuhan Yesus menolong dan memberkati kita semua. Salam dan doa beserta.
Pdt. Desiana Rondo Effendy, M.Th.
Amin.




