Allah Tidak Pernah Lelah. Manusia yang Sering Lelah

Bacaan : Lukas 15:11-32
Ditulis oleh Fr. Gabriel Benu. (Seminari tinggi St Mikael Kupang.)
Membaca Teks Lukas 15:11-32

Teks injil Lukas 15:11-32 adalah salah satu teks yang berbicara tentang dosa, pertobatan dan pengampunan. Dalam konteks Injil Lukas, teks ini menjadi salah satu bagian yang mengikuti dua teks terdahulu yang berbicara perihal domba dan dirham yang hilang. Lukas membuat semacam skema tahapan dari pengajaran Yesus tentang makna sukacita pertobatan hingga pada pengampunan Allah yang tak terbatas. Sebelum memahami tentang dosa, pengampunan dan pertobatan sebagaimana ditampilkan dalam kisah Anak yang Hilang ini, pada tempat yang pertama saya akan mengulas secara eksegetis teks Lukas 15:11-32 ini. Ulasan ini dimaksudkan sebagai bahan untuk membentuk gambaran pemaknaan perihal dosa, pengampunan dan pertobatan.

Yesus membuka perumpaan tentang Anak yang Hilang ini dengan menampilkan tiga tokoh utama yakni Bapa dengan dua anak laki-laki. Kisah dimulai dengan tuntutan kasar sang anak bungsu terhadap sang Bapa untuk membagi harta kekayaan yang menjadi haknya. Dalam Masyarakat agraris di Galilea, harta warisan utama berasal dari tanah dan ternak. Ini sehubungan dengan corak hidup masyarakat Yahudi yang pada umumnya bertani dan beternak. Menarik bahwa si bungsu justru meminta agar sang ayah membagi warisan itu saat masih hidup. Ini sangat bertentangan dengan kebiasaan waktu itu bahkan hingga hari ini bahwa pembagian harta warisan biasanya terjadi setelah orang tua meninggal dunia melalui suatu wasiat tertulis. Sehubungan dengan itu juga, menurut hukum Yahudi, anak laki-laki yang lebih tua menerima dua kali lebih banyak dari anak laki-laki yang lain. Meski, seorang ayah dapat juga membagi warisan semasa hidupnya namun permintaan si bungsu secara tidak langsung mengatakan juga bahwa sang Bapa sudah meninggal.

Tidak hanya meminta, si bungsu justeru menjual semua harta yang telah diberikan oleh sang Bapa, pergi ke negeri lain dan memergunakan hasil penjualan harta warisanya untuk hidup berfoya-foya. Singkat kisah, kehidupan glamour yang ditunjukkan oleh si bungsu tidak bertahan lama dengan datangnya masa kelaparan. Kelaparan, melarat membuatnya harus bekerja untuk mengisi perut. Pekerjaan yang dapat dikerjakan ialah menjada babi. Tidak hanya menjaga babi, si bungsu bahkan hendak berbagi makanan dengan ampas yang menjadi makanan babi tetapi itu pun tidak diberikan. Di tengah situasi terpuruk itu ia sadar dan ingat akan keberlimpahan di rumah bapanya. Si bungsu memulai suatu perjalanan kembali ke dalam diri dan menyadari bahwa bahkan orang upahan juga diberkati di dalama rumah bapanya. Perjalanan kembali ke dalam diri menjadi awal perjalanan kembali kepada bapa.

Perjalanan kembali ke rumah bapa dengan segala rencana ternyata berbuah manis. Sang bapa melihat dari jauh dan tergerak oleh belas kasihan. Menjumpai si anak, merangku dan menciumnya. Bahkan sebelum si anak menyelesaikan litani penyesalannya, sang bapa justru meminta para pelayan mengambil jubah, cincin dan sepatu terbaik untuk dipakaikan kepadanya. Jubah, cincin dan sepatu melambangkan martabat terhormat. Sang anak tetap menjadi anak sang Bapa, apapun keadaannya. Penyambutan sang anak bungsu dirayakan dengan menyembelih lembu tambun. Di pedesaan Palestina, orang jarang makan daging, kecuali bila ada pesta biasa itu pun dengan hewan kecil. Anak lembu hanya dikhususkan ketika ada perayaan besar. Kembalinya si anak bungsu dengan disambut perayaan besar ini tentu membingungkan orang yang memegang teguh keadilan dan kebenaran sebagaimana yang akan menjadi alas an protes si anak sulung. Namun, hal demikian tidak berlaku untuk sang bapa. Anak yang hilang dan ditemukan kembali, yang telah mati dan hidup kembali lebih bernilai dari sekedar keadilan dan kebenaran.   

Di pihak lain ada si anak sulung. Digambarkan sebagai yang setia, tekun dan selalu ada bersama dengan sang bapa. Si anak sulung menjadia marah dan tidak mau masuk rumah setelah mendengar bahwa si anak bungsu, adiknya telah kembali dan disambut dengan perayaan dengan menyembelih anak lembu tambun. Si anak sulung memerinci sederet prestasi “kesetiaan-nya” di hadapan sang bapa dan membandingkannya dengan si anak bungsu yang bobrok. Ada satu hal menarik yang dicatat di sini, ia membandingkan penyembelihan anak lembu tambun untuk menyambut si bungsu dengan dirinya yang bahkan tidak pernah sekalipun diberikan seekor anak kambing. Anak kambing bila dibandingkan dengan anak lembu tambun justru bernilai rendah. Dengan ini si anak sulung ternyata memaknai seluruh ketekunan dan kesetiaannya selama bersama sang bapa sebagai seorang hamba upahan. Ia hilang di dalam rumah sendiri. Bahkan tidak memaknai diri sebagai anak. Ia bahkan melihat diri sebagai orang asing. Pernyataan si sulung “tetapi baru saja datang anak bapa” justru memisahkan dirinya sendiri dari kebersamaan sebagai anak-anak bapa yang memiliki semua yang bapa miliki.  

Dosa: Jalan Jauh ke Tanah Asing

Berdasarkan ulasan eksegetis singkat dari teks Lukas 15:11-32 saya menemukan bahwa dosa adalah satu perjalanan jauh menuju tanah asing. Keterasingan itu bahkan telah dimulai dari rumah sendiri dari penolakan akan kehadiran Allah. Tuntutan si bungsu yang meminta warisan adalah satu bentuk dosa terhadap orang tua sebab dengannya ia bahkan hendak mengatakan “mati saja kau bapa”. Si bungsu ini mewakili kenyataan dosa manusia yang seringkali tidak menganggap atau bahkan menolak kehadiran Allah dalam kehidupannya. Di pihak lain juga penolakan terhadap Allah bahkan membuat manusia jatuh pada pengkhianatan terhadap anugerah Allah itu sendiri. Bila definisi dosa itu adalah pelanggaran hukum Allah (peccatum est libera transgessio legis Dei) maka sesungguhnya kisah si anak hilang ini hendak menegaskan bahwa dosa itu lebih dari sekedar pelanggaran. Dosa itu juga adalah ketika Allah tidak lagi mendapat tempat istimewa di hati manusia. Anugerah-Nya dikhianati demi kesia-siaan hidup yang terasing. Dosa itu lebih dari sekedar pelanggaran. Dosa itu jalan jauh dari rumah Allah Bapa menuju tanah asing dengan segala kemewahan namu berakhir nestapa.

Kehidupan di negeri asing dan jauh tidak seperti yang diharapkan. Sumber daya habis, ditinggalkan oleh teman-teman, kelaparan datang dan berbagai kesulitan menghampiri. Inilah sebenarnya yang merupakan akibat dosa dalam kehidupan orang-orang yang menolak untuk memberi tempat istimewa bagi Allah di dalam hatinya. Dosa menjanjikan kebebasan tetapi yang dibawanya justru adalah perbudakan. Dosa menjanjikan kesuksesan tetapi yang lahir justru kegagalan. Dosa sekilas menjanjikan kehidupan tetapi justru upah dosa ialah maut. Kita sebagaimana si anak bungsu mengira akan menemukan diri setelah jauh dari Allah tetapi justru seperti si bungsu, kita malahan kehilangan diri sendiri. Ketika Allah tidak ada dalam kehidupan kita, kenikmatan hanya menjadi perbudakan.

Dosa yang sama juga ditunjukkan oleh si sulung. Meski tidak meminta warisan  secara terang-terangan kepada si bapa, namun sikapnya terhadap kepulangan si bungsu pada akhirnya memerlihatkan betapa hatinya justru pergi jauh dari rumah. Pergi dari kasih bapa. Si sulung mewakili kita manusia yang seringkali merasa benar tetapi justru diam-diam menyimpan dendam dan amarah. Kita bahkan seringkali merasa harus dihormati atas sekian banyak pencapaian rohani yang kita buat. Keangkuhan rohani inilah yang jutru paling berbahaya. Ibarat kanker yang membunuh dari dalam tanpa disadari. Seolah-olah ada di dalam rumah, sesunggunya si sulung mewakili kenyataan diri kita yang seringkali justru tetap tinggal “di luar rumah” dan tidak mau masuk sambal terus menerus mencemooh si bungsu, sama saudara yang bertobat.

Pertobatan: Suatu Jalan Pulang

Kisah pertobatan adalah kisah kepulangan. Si bungsu dalam kisah Injil Lukas memulai suatu pertobatan dengan membangun niat untuk pulang. Ada dua dimensi jalan pulang yang dapat dimaknai dalam kisah ini. Pertama, jalan pulang menuju diri sendiri. Kesadaran si bungsu setelah ditimpa kesulitan membuatnya melihat kembali diri sendiri. Ia membuat perjalanan kembali untuk melihat betapa bermartabat dirinya saat ada bersama bapa dalam rumah. Keterasingan membuat martabat menjadi kehinaan. Si anak bungsu mendapati dirinya dalam kesendirian dan keputus-asaan. Inilah yang membuat dia memutuskan kembali ke rumah. Kembali kepada bapa. Si bungsu membangun pertobatan dengan pertama-tama mengubah pikirannya. Mengubah mindset-nya. Bila di rumah bapa, hamba upahan saja mengalami keberlimpahan apalagi diri-nya anak yang menjadi alih waris sang bapa. Pertobatan si bungsu dan kita sekalian pertama-tama membawa kita kembali kepada diri sendiri. Sebab keterasingan dari Allah akibat dosa bahkan membuat kita kehilangan diri sendiri.

Kedua, jalan pulang kepada diri sendiri membawa si bungsu untuk jalan pulang kembali ke rumah bapa. Ada kebaruan dari pertobatan si bungsu ini. Dia tidak hanya bertobat dengan memikirkan kesejahteraan dirinya sendiri seperti kembali mendapatkan pelayanan istimewa, bisa makan enak, tidak lagi kesepian dan bisa mengobati rasa rindu pada rumah tetapi lebih dari itu pertobatannya membuat dia kembali melihat sang bapa dengan cara yang baru dan membawa pengharapan. Inilah sesungguhnya pertobatan sejati yang harus menjadi pertobatan kita. Bahwa bertobat tidak saja untuk kepentingan diri tetapi lebih dari itu bertobat dari cara pandang yang keliru terhadap Allah dan anugerah-anugerah-Nya. Kembali ke rumah bapa, kembali ke rumah Allah tidak hanya kembali pada kenyamanan hidup yang serba terjamin tetapi lebih dari itu, kembali kepada pengharapan sejati yang tidak pernah mengecewakan.

Pengampunan: Kerahiman yang Tak Berbatas

Pengampunan sesungguhnnya menjadi kunci dari seluruh kisah ini. Betapa berdosanya si anak, pengampunan bapa justru melampauinya. Sang bapa mewakili pribadi dan sikap Allah sendiri. Bahkan ketika si anak muncul dari kejauhan, sang bapa telah melihatnya. Ini menyimbolkan suatu penantian dari Allah terhadap manusia. Pada titik ini menarik bila kita merefleksikan kembali kata-kata dari Sri Paus Fransiskus “Tuhan tidak pernah Lelah menanti kita. Justru kita-lah yang seringkali lelah datang pada-Nya”. Penantian Allah pada manusia tidak berbatas. Pengampunan Allah bukanlah pengadilan dan penghukuman. Seperti kisah kepulangan si bungsu, kita melihat bahwa pengampunan Allah adalah belas kasih yang mengangkat kembali martabat manusia yang hilang akibat dosa. Bapa yang tergerak oleh belas kasih adalah gambar Allah yang selalu mendahulukan belas kasih dan kerahiman pada manusia. Paus Fransiskus dalam Misericodiae Vultus menulis, “ketika dihadapkan dengan gentinya dosa, Allah menanggapi dengan kepenuhan kerahiman. Kerahiman akan selalu lebih besar dari dosa apapun dan tidak ada seorang pun yang dapat menempatkan batasan-batasan kasih Allah yang selalu untuk mengampuni”.

Pengampunan Allah didasarkan pertama-tama pada belaskasih dan kerahiman-Nya. Belas kasih adalah sikap dasar Allah. Inilah yang memungkinkan Allah menyambut manusia yang pulang dari “kedosaan-nya” tidak dengan penghakiman dan pengadilan tetapi dengan rangkulan, pelukan dan sukacita. Kisah si anak hilang ini menampilkan pengampunan Allah yang melampaui dosa manusia. Bahkan sebelum manusia benar-benar mengungkapkan seluruh penyesalan dan pertobatannya, Allah justru tidak menghiraukannya dan lebih memilih mengadakan sukacita. Bila direfleksikan lebih dalam pengampunan Allah adalah lautan kerahiman yang tak berujung. Pengampunan Allah adalah kerahiman yang melampaui bahkan kematian manusia itu sendiri.

Dari kisah ini, Yesus memberi gambaran tentang kerahiham Allah yang melampaui hukum-hukum manusia yang terjebak dalam kecenderungan penghakiman. Itulah mengapa kerahiman Allah kadang-kadang tidak dapat diterima di hadapan orang-orang yang menekankan keadilan dan kebenaran. Kisah ini juga pada akhirnya menampilkan keadilan Allah yang rahim. Terdapat dua kenyataan manusia yang diwakili oleh kedua anak, Allah tetap menjadi Allah yang rahim. Pengampunan-Nya adalah pengampunan yang rahim. Keadilan-Nya adalah keadilan yang rahim pula.  

Share your love