Dibebaskan untuk Membebaskan dan Memberdayakan

Shalom sahabat sepelayanan, selamat paskah bagi kita semua. Selamat mempersiapkan Ibadat syukur paskah 10 april 2023. Bagi semua terkasih semoga kita saling melengkapi dalam menyiapkan bacaan bersama umat. Salam dan doa beserta. Pendeta Desiana Rondo Efendy M.Th (GMIT Maranatha Oebufu, Klasis Kota Kupang Timur)

Bacaan : Keluaran 11:1-12:15

Pengantar

Paskah adalah berita pembebasan dan kemenangan . paskah menghadirkan pemuliihan bagi semua ciptaan. Orang percaya memiliki pengharapan yang menghidupkan dirinya melalui. Paskah menghidupkan dan memberikan kekuatan baru untuk setiap orang percaya berjalan dalam kehendak dan tuntunan Allah. Tantangan dan kesulitan di hadapi dengan satu kepastian kita punya Allah yang hidup dan setia menemani kita.

Penjelasan Teks

Peristiwa keluaran /exodus menceritakan peristiwa pembebasan umat Israel keluar dari perbudakan di mesir. Pengharapan akan masa depan menjadi mimpi dan cita cita bangsa Israel melewati gelapnya perjalanan di tanah Mesir. Musa menghadapi kesulitan dan ancaman untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir. Keluaran 11: 1-10, Tuhan berfirman kepada Musa “ Aku akanmendatangkan satu tulah lagi atas Firaun dan atas Mesir, sesudah itu ia akan membiarkanmu pergi. Satu pukulan terberat yang dihadapi Firaun dan mesir adalah kematian anak sulung. Dalam catatan di ayat 7 musa menyampaikan Tuhan membuat perbedaan antara orang Israel dan orang Mesir . tetapi Firaun tetap mengeraskan hatinya tidak membiarkan Israel keluar dari Mesir. Mengeraskan hati membuat firaun belajar melihat karya dan kekuatan kuasa Tuhan dalam proses yang di kehendaki Tuhan. Pembebasan bangsa Israel  dari tanah mesir merupakan karya Tuhan bukan kebaikan dari firaun tetapi kasih karunia Tuhan.

Keluaran 12:1-15 ; dijelaskan bahwa sebelum tulah kesepuluh terjadi, Allah memerintahkan bangsa Israel untuk mempersiapkan diri. Persiapan itu mengharuskan mereka menyembelih domba dan membubuhkan darahnya pada kedua tiang pintu dan ambang atas rumah mereka (Kel. 12:1-7). Tuhan memberikan pilihan yaitu boleh kambing atau domba, harus ada yang disembelih dan kurban darahnya itulah yang menjadi tanda agar hukuman Allah tidak tertimpa atas rumah mereka. Daging yang dipanggang harus dimakan dengan roti tidak beragi beserta sayur pahit. Semua ketentuan ini adalah ketetapan. Tulah kesepuluh ini membuat bangsa Mesir amat resah. Bila bangsa Israel tetap tinggal di Mesir, mereka kuatir bahwa Allah Israel akan terus menimpakan tulah (hukuman) kepada bangsa Mesir. Oleh karena itu, mereka meminta agar bangsa Israel segera pergi meninggalkan Tanah Mesir. Dalam kondisi resah seperti itu, orang Mesir memberikan apa pun yang diminta orang Israel. Karena peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Tanah Mesir memiliki makna rohani yang amat penting, disiapkanlah suatu perjamuan makan yang disebut Paskah yang dirancang untuk mengingatkan bangsa Israel bahwa pada malam mereka keluar dari Tanah Mesir, Allah telah menyelamatkan (membebaskan) mereka dari kematian yang menimpa semua anak sulung bangsa Mesir, baik manusia maupun hewan. Paskah yang harus dilaksanakan turun-temurun menjadi peringatan akan pembebasan yang dilakukan oleh Allah. Tanda pengharapan dari segala penindasan dan membebaskan umat-Nya dari ketertindasan. Terhadap bangsa Israel, Allah merancang pembebasan atau penyelamatan dari penjajahan secara fisik. Akan tetapi, terhadap kita semua orang-orang berdosa Allah merancang keselamatan dengan  rencana yang telah ada sejak semula, sebelum dunia dijadikan, setelah manusia jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3:15) Yesuslah anak domba Paskah bagi dunia. Itulah berita  pembebasan yang nyata. Paskah mengalami perubahan nilai yang berbeda Penebusan dan kemenangan menjadi kekuatan Allah(” power of God”) menyatakan karya dalam diri anakNya. Paskah bukan hanya cerita tentang pembebasan bangsa Israel dari perbudakan tetapi juga kebangkitan Yesus yang membebaskan umat dari rantai dan belenggu dosa  menjadi rantai makanan bagi dunia dan semua ciptaan. Rantai makanan memberikan rasa cukup dan ketergantungan satu sama lain untuk ada, punya rasa dan saling membutuhkan. Nilai apa yang kamu dapatkan dalam setiap makanan yang di konsumsi?  Apapun yang kamu makan semua punya nilai, dalam tulisannya pdt lina gunawan mengatakan rantai makanan itu ada di meja makan kita ketika kita makan bersama kita satu tubuh  “holly communion”/ perjamuan kudus. Dan orang makan bersama ada dalam keramahtamahan (hospitality). Kebangkitan Yesus mengajarkan kepada kita hospitality untuk berbagi dan menjadi rantai makanan bagi bumi, dunia dan semesta. Makanan itu ada di setiap meja makan kita harus bijak mengelola apa yang akan kita nikmati  di meja makan kita. Karena makanan itu adalah pemberian Tuhan[1]


[1] Food justice preaching, materi preaching pdt lina gunawan, GKI Kayu Putih

Refleksi dan Aplikasi

Di bebaskan untuk membebaskan dan memberdayakan mengajarkan kepada kita 2 catatan penting:

  1. Ada nilai yang harus dibayar bagi sebuah pembebasan walaupun pembebasan itu adalah pemberian / gift / kado yang diberikan Allah dalam Kristus bagi anak anaknya. Hidup dalam perubahan nilai dengan saling menghargai memberikan transformasi bagi dunia. Kerendahan hati dan memberi diri akan menetukan nilai hidup kita. Ajarlah anak anak kita menghargai nilai nilai dalam hidupnya.
  2. Hidup hari ini menentukan masa depan kita karena itu jadikan hidupmu bernilai bagi Tuhan dan dunia, apapun yang kita miliki itu pemberian Tuhan seperti makanan yang menghidupkan kita  harus kelola dengan baik hidup untuk menjadi berkat.

Selamat mempersiapkan khotbah. Tuhan Yesus memberkati.

Share your love