Kemerdekaan sebagai ruang hidup baru hidup merdeka

Bacaan : Galatia 5: 1 – 15 | Maranatha Oebufu, 17/8/2023 (HUT JMO & RI)
Penulis : Pendeta Emeritus SV Nity MTh

SS, Khotbah ini bertitik-tolak dari ayat 1, 13 – 15 tentang kemerdekaan sebagai ruang hidup baru hidup merdeka. Agak sulit untuk mencari teks alkitab yang cocok dijadikan semacam Piagam Pendirian Jemaat atau Gereja, karena ada banyak teks alkitab yang bisa dipilih. Namun diultah Jem. Maranatha Oebufu kali ini saya memilih 1 Petr 2:9: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih…. (baca bersama).

 Kita bisa masukkan nama Jem. Maranatha Oebufu dan menyusun kembali ayat ini jadi begini: “Allah telah memanggil Jem. M Oebufu keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam terang Allah yang ajaib dan menjadikan J.M.O sebagai bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri untuk memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Allah di dalam Yesus Kristus bagi dunia.”

Inti kemerdekaan Kristen seperti dikatakan di Gal. 5:1 adalah kemerdekaan dari dosa, kuasa Iblis, maut dan kegelapan untuk masuk ke dalam persekutuan orang-orang merdeka sebagai umat milik Tuhan untuk memberitakan kasih setia dan kasih sayang Tuhan kepada semua manusia. Kalau begitu merayakan ulang tahun sebagai jemaat berarti bersyukur bahwa TA menjadikan kita semua, J.M.O menjadi umat milik-Nya. Dalam syukur yang demikian tidak ada orang yang puku dada bilang, “kalau bukan beta, ini J.M.O sonde jadi begini.” Tentu ada banyak orang yang punya andil. Namun semua harus mengaku: kalau bukan Tuhan ini JMO sonde jadi begini ……

Allah memerdekakan kita untuk apa ? Gal. 5:14 bilang: “Untuk hidup dalam kasih:

  • Hidup mengasihi TA ….. ,
  • Mengasihi diri sebagai anak Allah ……….
  • Mengasihi sesama manusia …. Bahasa politiknya bilang “hidup berperi kemanusiaan dan membina diri menjadi manusia yang adil dan beradab.”

Ciri orang yang hidup dalam kasih, sesuai teladan TY, adalah melayani, bukan menuntut untuk dilayani. Orang yang melayani dalam kasih itu selalu anggap orang lain lebih penting dari dirinya sendiri. Dkl, kita hanya bisa melayani dengan kasih jika kita berani rendah hati, anggap orang lain lebih penting dari diri kita dan melayani mereka dengan kasih. TY bilang, orang yang merdeka dari dari dosa  dan mau jadi “orang besar” dalam terang Allah yang ajaib adalah orang yang merendahkan diri dan melayani. (Mat. 20: 26-28.) Jadi di ultah JMO ini kita periksa diri kita: pendeta, prebiter, panitia, guru PAR, PK/Fungsional dll, apakah semangat ini telah kita tumbuhkan menjadi norma hidup bersama sebagia bangsa yang kudus, imamat yang rajani dan umat kepunyaan Allah. Benarkah dengan norma hidup mengasihi, merendahkan diri untuk melayani kita telah menjadikan diri kita dan JMO  menjadi persekutuan yang memberitakan perbuatan-perbuatan besar dari Allah di dalam TY kepada dunia dan semua manusia.

Memeriksa diri ini penting agar kita bisa cek jangan-jangan justru dalam diri kita sebagai umat Allah, bangsa yang kudus, imamat yang rajani, kita malah saling menggigit, dalam arti tidak saling mencelakai, melukai, menodai, merusak hidup dan iman.

SS, hari ini juga kita syukuri HUT kemerdekaan RI. Piagam dasar kemerdekaan RI dirumuskan sebagai berikut: Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya. ….. untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian dan keadilan sosial.

Sebagaimana umat Kristen mengakui bahwa TA sajalah yang memerdekaan kita dari dosa, maut dan Iblis, maka sebagai warga bangsa Indonesia kita mengaku bahwa kita bisa merdeka dari penjajah secara politik, sosial dan ekonomi karena berkat rahmat Tuhan Yang Naha Kuasa. Jadi merayakan kemerdekaan bangsa juga tidak bisa lepas dari ucapan syukur kepada Tuhan yang Maha kuasa, karena Dialah yang mengaruniakan kemerdekaan bagi kita.

Tuhanlah yang memberi kita ruang kebebasan untuk dapat mengabdikan diri secara bertanggungjawab untuk mengusahakan kesejahteraan umum, bukan sekedar cari selamat dan sejahtera bagi diri semata. Untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian karya-karya gereja di bidang pendidikan dan pelayanan diakonia serta pemberdayaan warga adalah sekaligus panggilan iman dan panggilan politik.  Kita dapat selamat di dalam gereja bukan untuk cari enak bagi diri sendiri, sebagaimana kita juga hidup sebagai warga bangsa yang merdeka bukan untuk sekedar untuk cari enak dan aman bagi diri sendiri. Tidak ! Kemerdekaan iman dari dosa, maut dan Iblis, sekaligus kemerdekaan politik, ekonomi dan sosial dari penjajah adalah kemerdaan untuk menjadi pelayan kebaikan bersama di dalam gereja, di dalam masyarakat dan di dalam ikatan bersama sebagai NKRI. Karena itu setiap orang yang menjadikan kemerdekaan iman dalam gereja dan kemerdekaan politik dalam NKRI sebagai kesempatan untuk mengembangkan ide-ide yang merusak gereja dan bangsa, mengancam kesatuan sebagai umat milik Allah dan umat dari NKRI yang bhineka tunggal ika, adalah orang-orang yang tidak tahu bersyukur kepada Tuhan karena rahmat Tuhan yang memerdekaan dari dosa dan dari penjajahan politik.

Apalagi di dalam ruang kemerdekaan iman dan ruang kemerdekaan politik terjadi proses-proses pemilihan di dalam gereja GMIT dan di NKRI. Proses-proses ini dapat menjadi ajang untuk saling menggigit dan saling merusak demi cari menang dan cari kuasa bagi diri sendiri. Dalam situasi ini kita dipanggil untuk paham bahwa menjadi orang merdeka dalam Kristus berarti menjadi orang-orang yang hati rela dan sukacita, bukan dengan sungut-sungut, dengan jujur mengerjakan tugas-tugas gereja dan bangsa demi kebaikan bersama dan kebaikan diri sendiri.

Terpujilah Tuhan. Merdeka.

Amin !

Share your love