Bahan PA, Minggu sengsara I, 19 februari 2023, Teritori 3 Klasis Kota Kupang Timur
Bacaan : Matius 18:21-35
Tema : Pengampunan memulihkan Relasi
Pengantar
Injil matius menyampaikan perkataan dan pengajaran yesus dalam bentuk nasihat dan perumpamaan/ parable. Pasal 18: 1-5 injil matius dibuka dengan Perumpamaan tentang siapa yang paling besar dalam kerajaan sorga, bicara tentang pertobatan dengan contoh anak kecil dengan kejujuran dan kerendahan hati.
Ayat 6-10 mengingatkan jangan membawa orang jatuh ke dalam dosa. Ayat 12-14, perumpamaan tentang domba yang hilang yaitu menemukan dan membawa pulang yang tersesat. Ayat 15-20 menasihatkan untuk menegur yang salah sebagai saudara. Dan ayat 21-35 bacaan kita bicara tentang pengampunan. Apa itu pengampunan?? Mari kita melihat lebih jauh arti pengampunan dalam memulihkan relasi /hubungan antara Allah dan manusia; manusia dan sesamanya manusia.
Penjelasan Teks
Ayat 21-22; petrus datang kepada Yesus , Tuhan sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa kepadaku? Sampai tujuh kali? Perumpamaan penuh simbolisme yahudi . 7 adalah angka istimewa karena melambangkan kepenuhan ilahi karena Allah menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari pada hari ke 7 Allah beristirahat dan melihat semua perbuatannya sangat baik. Bagi petrus 7 kali sudah sangat luar biasa oleh sebab itu ia berharap dipuji Yesus ketika mengemukakan hal itu, tetapi jawaban Yesus sangat mengejutkannya ayat 22; bukan 7 kali tetapi 70 kali 7 kali. Puluhan bagi tradisi yahudi menunjukkan jumlah yang banyak dan masih di kali 7 angka sempurna. dalam simbolisme yahudi bukan 490 kali tetapi sebuah bilangan tak terbatas. Maka tidak ada batas bagi kita untuk melepaskan pengampunan sebagaimana kita sudah diampuni tanpa batas oleh sang Raja (Tuhan Yesus).
Ayat 23-26 ; Perumpamaan raja yang memberi perhitungan hutang piutang mengingatkan pembaca pada satu pesan yang penting bahwa hutang dosa kita sudah dibereskan oleh sang raja (Tuhan Yesus), karena ini bicara tentang kerajaan sorga. Ayat 25 ; karena hamba itu tidak mampu melunasi hutangnya 10.000 talenta maka raja memerintahkan ia dijual beserta istri dan anaknya juga harta miliknya untuk melunasi hutang. Ayat 26; hamba itu minta waktu “ sabarlah tuan segala hutangku akan kulunasi.
Ayat 27-30; ada jeda waktu yang diberikan oleh raja kepada hambanya dan ayat 27 mencatat “tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan” belas kasihan Allah lah yang membebaskan hamba itu dari hutangnya, hutangnya di hapuskan. Tetapi apa yang dilakukan oleh hamba itu bertolak belakang dengan apa yang dia dapatkan dari raja. Ayat 28; dia melakukan kekejian kepada saudaranya ; ia bertemu dengan hamba lain yang berhutang kepadanya 100 dinar, ia menangkap, mencekik kawannya itu dengan kekerasan ia meminta kawannya melunasi hutang, walaupun kawannya memohon dan meminta belas kasihannya (bersujud dihadapannya) ia menolak dan tidak berbelas kasihan terhadap kawannya yang berhutang. Kejadian ini bisa kita imaginasikan betapa arogannya orang yang sudah dihapuskan hutangnya kepada sesamanya.
10.000 talenta, 6000 dinar, 600 hari bekerja , 10.000 talenta (1 talenta sama dengan 6000 dinar maka 10.000 talenta = 60.000.000 dinar). Dalam Alkitab dikatakan bahwa 1 dinar adalah upah pekerja sehari (Mat 20:2). Dapat dibayangkan bahwa seorang pekerja harus bekerja selama 164 tahun untuk mendapatkan upah sebanyak 10 ribu talenta. Jumlah itu sangat besar dan tidak mungkin untuk dilunasi. Dalam sistem perbudakan maka hutang sebanyak itu bisa menyebabkan orang yang berhutang dan keluarganya dijadikan budak seumur hidup. Perumpamaan kita mengatakan bahwa hati Raja penuh belas kasih sehingga membebaskan orang yang berhutang itu dari kewajiban melunasi hutangnya. Pengampunan terjadi bukan karena usaha memohon, melainkan karena rasa belas kasih pada diri Raja. Belas kasih Allah menyebabkan kita diampuni. Kita memohon pengampunan kepada Allah yang berbelas kasih Ayat 31-35; dua kejadian itu di saksikan oleh orang lain termasuk kawan kawan kedua hamba yang berhutang ini. Ayat 31 mereka sangat sedih melihat keadaan di depan mata mereka dan menyampaikannya kepada raja.
Ayat 32-33, ada tindakan yang dilakukan sang raja, raja memangil orang yang berhutang kepada raja dan menyebut ia “hamba yang jahat” karena engkau memohon pengampunan hutangmu ku hapuskan, seharusnya engkau melakukan hal yang sama “mengasihi kawanmu seperti aku mengasihani engkau?”. Ayat 34-35, hamba ini diserahkan kepada algojo sampai ia melunasi hutangnya. Ini pesan yang penting pengampunan sudah diberikan oleh bapa dan bapa mengajarkan kita juga belajar melepaskan pengampunan itu bagi sesama manusia. Dalam cerita ini mengandung implikasi bahwa kita yang sudah menerima pengampunan harusnya “tahu diri” dan juga mau mengampuni sesama kita. Kasih dan pengampunan itu tak terbatas karena kasih Allah juga tak terbatas buat kita ( Mazmur 103:8-13).
Refleksi dan Aplikasi
- Mengampuni tidak cukup dengan kata kata tetapi dengan hati. Ketika mengampuni tidak ada dendam, iri hati dan kebencian. To be social is to be forgiving (Robert frost)[1] mengatakan menjadi makhluk social itu syaratnya adalah mengampuni. Dalam hidup bersama dengan orang lain manusia bisa berbuat salah , harus siap dengan penerimaan dan pengampunan. Mengampuni ini dimulai dari penerimaan diri “ berdamai dengan diri sendiri”. Kenapa tuhan menginginkan mengampuni tanpa batas karena ketika kita tidak mampu melepaskan pengampunan selalu ada rantai kekerasan dan dendam. Kenapa harus mengampuni supaya kita memutuskan rantai kekerasan. Makin ada pembalasan makin ada kekerasan. Alasan kenapa tuhan menolong kita mengampuni supaya ada kebaikan dalam diri kita. Kita memulai lebih dahulu bukan menunggu orang minta maaf. Mengampuni focus kita kepada Allah bukan kepada orang/sesama manusia. Yesus membawa revolusi pengampunan. Pengampunan adalah harga mati bagi orang percaya. Doa bapa kami, menunjukan sikap dan kesetiaan mengampuni orang lain. Soal mengampuni adalah sebuah proses. Mengampuni bukan membenarkan tindakan orang lain, mentolerir dosa, tetapi sebuah proses bergantung pada kuasa roh kudus untuk menguasai hati kita, proses untuk bersedia mengampuni. Soal hukuman urusan Tuhan bukan urusan manusia.
- Pengampunan Allah tiada menghilangkan penghakiman. Hamba yang telah dilunasi hutangnya, menuntut hutang saudaranya 100 dinar. Manusia menerima pengampunan allah tapi tidak mau mengampuni orang lain. Kita akan di hakimi oleh Tuhan Allah sendiri.
Pdt Eka darmaputera mengatakan “Pengampunan terjadi bukan karena melupakan – forget and forgive, Justru harus ingat dan ampuni ~ remember and forgive”. Pengampunan sejati harus berawal dari ingatan yang jelas akan getirnya rasa kecewa, akan pedihnya dikhianati, akan perihnya dibohongi berkali-kali, dan akan sakitnya diinjak-injak hak-hak kita yang paling asasi. Getir, pedih, perih, dan sakit! Ya! Itu tak akan saya lupakan! Tak perlu saya lupakan, dan memang tak mungkin! Namun demikian, saya toh bersedia mengampuninya!” Pengampunan memulihkan relasi dan hubungan kita dengan Tuhan dan sesama manusia. Pengampunan adalah natur kerja kita sebagai orang orang yang mendapat kasih karunia Allah. Hanya dengan kesadaran akan anugerah itu,natur kerja itu dapat menjadi nyata. Selamat mempersiapkan diri dan saling melengkapi untuk pemberitaan firman. Tuhan yesus memberkati.
[1] Tulisan pdt eka darmaputera ,5 desember 2009 jurnal teologi STFT Jakarta




