Allah Sumber Pemulihan Bangsa

Bacaan : (Ratapan 5 : 122),  NP :  Yesaya 49: 15-16a.

Shalom jemaat terkasih Tuhan, apa kabar hari ini?. Saya berharap keadaan kita selalu baik ditengah situasi yang sulit hari ini. Ibu Bapak terkasih, bisakah kita menjawab pertanyaan ini;

  1. Persoalan apa sih yang membuat kita menderita?
  2. Penderitaan apa yang paling hebat dan membuat kita susah dalam hidup?

Kita berada dalam masa- masa yang sulit bagi bangsa Indonesia hari ini, Pandemi dan kehadiran covid-19 membuat banyak orang diberbagai belahan dunia menderita dan meratap saling bersahut sahutan. Indonesia mengalami keterpurukan yang amat sangat berhadapan dengan covid 19 hampir 2 tahun, sejak 2020-2021. Sampai kapan situasi ini terjadi tidak ada yang tahu kapan berakhirnya. Tetapi saudaraku situasi hari ini juga menyadarkan kita untuk kembali melihat keatas dan menengadah kepada Tuhan dalam kerahimannya.

Bacaan kita Ratapan 5 : 1-22 mengambarkan banyak sekali penderitaan yang dialami dengan berbagai sebab :

  1. Dari luar diri / perbuatan sesame (ayat 2-15).
  2. Karena dosa mereka itu sendiri (ayat16-18).
  3. Konsekuensi dari dosa itu sendiri karena Tuhan berdiam diri (ayat 19-22)

dan akhirnya manusia menyadari hanya Allah saja yang dapat menolong mereka keluar dari semua penderitaan itu. Dalam permohonan, syafaat dan pengakuan dosa mereka menyampaikan kepada Tuhan akibat kejatuhan Yerusalem mereka kehilangan harga diri dan martabatnya sebagai bangsa yang besar, mereka menghadapi berbagai ancaman. Ratapan 5 menceritakan tentang penderitaan umat dan theodicy (kehadiran Allah). Theodicy merupakan cara Allah unntuk membuat manusia bertransformasi menjadi lebih baik.  Farley Wendy dalam bukunya “Serving in the Spirit of Goodness” mengatakan; theodicy adalah cara Allah memperlihatkan cinta kasihnya yang tidak pernah berakhir dalam kehidupan manusia. Allah senantiasa hadir dan menemani manusia bahkan ketika menemui masa kelam di dalam hidupnya.

Kondisi kita sekarang ini juga membuat kita bertanya kenapa semua ini terjadi dan sampai kapan ini menjadi misteri ??? yang tidak bisa dijawab oleh manusia.  Penulis Ratapan tidak punya jawaban / alasan untuk menjawab penderitaan zaman ini. Dan tidak ada rumusan teologis yang menerangkan berapa lama kita harus menderita. Sesungguhnya saudara-saudariku penderitaan memberi kesempatan kepada kita untuk jujur  mengakui kerapuhan kita, menyampaikan keluh kesah kita dan pertanyaan kita kepada Allah. Saya mengambil catatan dari Pdt. Lina Gunawan Ini yang disebut Blessing in Disguise” dari penderitaan (berkat yang terselubung) dari penderitaan itu sendiri.

Kenapa ada berkat dibalik penderitaan, ratapan  mengajak kita berefleksi bersama Allah. God and Suffering (Allah dan penderitaan), tiap orang harus melewati dan mengalami penderitaan dalam proses yang wajar dan bertahap. Ada 5 pertanyaan yang sering kita ajukan kepada Tuhan dalam penderitaan kita; apakah ini karena kehendak Tuhan, karena dosa atau perbuatan manusia, karena iblis dan si jahat, karena perbuatan orang lain dan yang penting perlu untuk kita renungkan  karena Tuhan mendidik kita untuk lebih sadar akan pentingnya menghargai hidup ini.

Ada Edukasi dalam proses penderitaan yaitu kita mengenal Tuhan dari apa yang kita alami dan kita berjumpa dengan Tuhan dalam ratapan dan penderitaan kita, bukan apa yang orang katakan tentang Tuhan kepada kita. Penderitaan membuat orang berjalan bersama Tuhan. Tuhan dan manusia belajar bersama tentang penderitaan itu. Dalam tiap kesukaran dan penderitaan ada sesuatu yang berbeda yang kita temui, pengalaman yang berbeda dari setiap orang melalui penderitaannya  bersama Tuhan tetapi berkat yang sama yang kita dapatkan dalam kerahiman Allah. Allah yang turut menderita bersama–sama dengan kita, Allah yang merengkuh manusia dalam kerapuhannya.  Ingatlah ya Tuhan apa yang terjadi atas kami (ay 1) bawalah kami kepada-Mu, baharuilah hari-hari kami (ay 21).

Pulihkanlah keadaan kami adalah sebuah permohonan diawal dan akhir doa yang diucapkan dalam ratapan Yerusalem dan bangsa Indonesia saat ini. Kata ingatlah dan bawalah mengungkapkan sebuah pekerjaan yang harus diselesaikan bersama dengan Tuhan untuk sebuah pemulihan. Saudaraku menjalani hidup tiap orang berhadapan dengan penyesalan, ada ketakutan, kesedihan dan sesungguhnya situasi itulah yang memulihkan kita untuk punya keinginan yang  kuat, bangkit dan mendapatkan kasih sayang Tuhan. Hari ini dan seterusnya apakah kita mau terlibat dalam karya pemulihan yang Tuhan buat di masa pandemi covid–19? Semangat kita tidak boleh kendor kita perlu gerakan bersama dalam bentuk solidaritas dengan sesama.

Karena ketika bencana Seroja dan virus Covid 19 datang menghampiri, kita mengakui kerapuhan kita, orang yang rapuh menolong yang rapuh dan membiarkan Allah merengkuh kita dalam kerapuhan untuk memulihkan kembali keadaan kita dan bangsa Indonesia. Tuhan memberkati kita ditengah penderitaan zaman ini. Teologi kerapuhan sesungguhnya mengajak kita untuk kembali merengkuh dan memeluk Tuhan dalam kerahimannya dan mau memberi ruang kepada Tuhan untuk bekerja dan  berkarya bagi dunia, manusia dan semua ciptaan.

Maukah kita memberi ruang dalam hidup dan hati kita kepada Allah untuk berkarya bagi dunia atau kita lebih menyalahkan dan menghakimi Allah ketika kita hidup dalam realitas penderitaan hari ini??. Apakah engkau sudah membuang kami (ayat 21), Tuhan melupakan aku? Ketika Sion dipulihkan Yesaya 49:15 mengingatkan kita, Aku tidak akan melupakan engkau, Aku telah melukiskan engkau di telapak tanganKu, saya dan saudara ada dalam tangan Tuhan. Tuhan memulihkan kita dan Bangsa Indonesia. Amin.

Share your love