Bacaan : Matius 24:37-44
Memperingatkan pembaca tentang kondisi di zaman Nuh dan zaman kedatangan Anak manusia dan orang harus bisa hidup dengan bijaksana karena Hari Tuhan itu pasti datang.
Peringatan untuk pasar dan toko tutup selama 3 hari sejak Jumat-Minggu, tanggal 10-12 April. Kendati ada orang yang mengatakan bahwa itu hoaks, namun kenyataannya, sejak Jumat dan Sabtu pasar dan toko-toko dipenuhi dengan begitu banyak orang yang berbelanja kebutuhan pokok. Apabila kita mempercayai sebuah peringatan, perilaku kita menjadi terpengaruh. Hal itu berlaku pada semua bagian hidup kita, termasuk perjalanan iman kita.
Poin 1. Kondisi di zaman Nuh dan zaman kedatangan Anak Manusia (ayat 37-42).
- Di zaman Nuh orang melangsungkan kehidupan mereka sehari-hari seperti biasa, seperti makan, minum, kawin, dsb, tanpa menyadari bahwa air bah akan datang sebagai bentuk penghakiman dari Allah bagi mereka. Disaat air bah melanda barulah mereka sadar apa yang sedang terjadi (ayat 37, 38, 39).
- Begitu pula pada saat kedatangan Anak Manusia, akan terjadi perpisahan yang sangat tajam atas manusia yang satu dengan yang lain (ayat 40-41).
Ilustrasi : Kondisi sebelum pandemi covid 19 semua berjalan aman, kita bisa berkumpul, makan minum dengan teman dan keluarga di rumah dan diluar dengan aman, saling berkunjung, beribadah di gereja, bersalaman, cipika-cipiki. Corona datang, terjadi pemisahan yang sangat tajam. Tidak boleh bersalaman, tidak boleh cipika-cipiki, apalagi cium sabu atau cium hidung. Orang sakit diisolasi, para medis harus memakai APD, dan semua orang di rumah saja.
Aplikasi : Setiap kondisi kehidupan menceritakan tentang cara Allah membaharui dan memulihkan kehidupan manusia. Apakah setiap orang mau untuk masuk dalam pembaharuan dan pemulihan yang Allah buat bagi dirinya ataukah tidak. Maukah kita melihat setiap situasi dan kondisi yang terjadi disekitar kita, bahkan dalam kehidupan kita sendiri, sebagai cara Allah sedang membangun kembali diri kita, pribadi kita, persekutuan kita sebagai gereja, bahkan keberadaan kita sebagai sebagai sebuah bangsa yang hidup untuk saling menerima satu dengan yang lain, mencintai kehidupan, mencintai kemanusiaan yang dengan sendirinya, kita mencintai Tuhan sebagai Sang Pencipta kita? Amsal 9:6, “Buanglah kebodohan, maka kamu akan hidup,dan ikutilah jalan pengertian.”
Poin 2. Berjaga-jaga dalam menanti Anak Manusia datang kembali.
Setiap orang harus hidup berjaga-jaga dengan melakukan tugas-tugas keseharian dengan penuh tanggung jawab dan hidup dengan memiliki hikmat Tuhan, sehingga kita peka terhadap setiap situasi yang akan dan bakal terjadi dalam hidup kita (ayat 42-44). Jika ini kita lakukan dengan baik, kita bisa bersukacita dalam menatap masa depan hidup kita.
Ilustrasi : Pencuri datang dan tuan rumah sudah tahu. Bersiap dan berjaga-jaga. Hidup penuh tanggung jawab
Aplikasi : Dalam situasi dan kondisi bangsa dan dunia yang tidak menentu ini akibat pandemi covid 19, kita bisa bertanya pada diri kita apakah ada masa depan bagi hidup kita sekarang? Bagi anak-anak kita yang akan melanjutkan sekolah setelah lulus SMA? Bagi usaha kita sehari-hari? Pekerjaan kita, dan hal-hal lain yang terkait dengan masa depan kita?
Bagi mereka yang hidup dengan tidak bertanggung jawab dan tidak memiliki hikmat Tuhan, maka masa depan pasti tidak ada. Tapi bagi kita yang hidup dengan waspada dan berjaga-jaga dengan hidup kita, bertanggung jawab dengan talenta yang kita punyai, dan mau membuat kehidupan disekitar kita benar-benar hidup seperti Yesus yang bangkit dan memberikan kehidupan bagi kita, maka percayalah masa depan kita didalam tangan Tuhan akan aman.
Setiap kondisi kehidupan dapat membuat orang-orang yang hidup dari dan didalam hikmat Tuhan akan bangkit untuk menata diri dan menemukan bahwa didalam dan bersama Tuhan, masa depannya terjamin dan Tuhan akan membuat dia, atau kita bisa hidup bersama orang lain secara bertanggung jawab, sehingga keberadaan kita dapat membuat masa depan orang lain juga terjamin.
Seperti yang dikatakan Yesus, Dengan demikian, benarlah apa yang dikatakan Yesus dalam Matius 5:45, “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar”. Menjadi anak-anak Bapa di sorga berarti bersedia untuk hidup ditata ulang oleh Allah Bapa untuk menjadi berkat bagi sesama sehingga kita bisa memiliki masa depan bersama dengan-Nya nanti. Amin.




