Bacaan : Yakobus 2:1-13
Penulis surat Yakobus menggambarkan tentang kesenjangan yang terjadi dalam masyarakat pada waktu itu. Dimana orang Kristen Yahudi diingatkan kembali dan diberikan spirit untuk kembali kepada apa yang diajarkan Yesus tentang hukum kasih bukan hanya Taurat dan peraturan sabat bagi orang Yahudi. Konteksnya adalah kesenjangan status sosial, baik secara materil/Ekonomi maupun dalam struktur/strata sosial dan jabatan seseorang. Kesenjangan Ekonomi antara yang miskin dan kaya. Jabatan dan status sosial seseorang sering menjadi ukuran yang dipakai pada waktu itu dan masa kini. Bicara tentang jangan memandang muka / diskriminasi dalam kasih dan belas kasihan Allah dijabarkan secara jelas oleh Yakobus dalam bacaan ini merujuk kepada hukum kasih. Kesenjangan antara yang miskin dan kaya sangat kontekstual pada masa itu dan sekarang. Ada 2 poin penting dalam bacaan ini :
- Jangan membuat diskriminasi dan kesenjangan dalam kumpulan orang percaya/gereja.
Ayat 1-7; kata “ PTOCHOS’ (dalam bahasa Yunani) diterjemakan miskin dalam ayat 2, menggambarkan keadaan orang yang benar benar miskin secara materi, tidak punya uang. Dan orang yang miskin secara materi banyak disekitar kita. perbedaan sikap dalam melayani yang kaya dan yang miskin terlihat dari status sosial melalui cara berpakaian indah dan berpakaian buruk. Secara lahiriah menjadi ukuran pada masa itu dan masa sekarang. Yakobus bicara tentang kasih yang menjadi ukuran orang mendapat bagian dalam warisan kerajaan Allah. Diskriminasi menimbulkan tindakan kekerasan bukan hanya secara fisik tetapi secara psikis, penindasan membuat orang tertekan dan bacaan ini mengingatkan kita untuk lebih bijak dan berkhidmat dalam bertindak.
- Kasih dan belas kasihan menjadi ukuran yang dipakai untuk mendapat bagian dalam Kerajaan Allah
Ayat 8-13; hukum yang terutama yaitu hukum kasih menjadi bagian yang di jabarkan Yakobus di ayat 8-9. Berlaku baik terhadap seseorang bukan karena ada maunya tetapi karena mengasihinya dan punya hati yang berbelas kasihan. Karena itu jangan memandang muka/pilih kasih dalam memperlakukan orang untuk keuntungan pribadi/kelompok. Catatan keras dari Yakobus tentang ketaatan terhadap hukum kasih (Imamat 19:18 dan Matius 22:39). Jangan buat pelanggaran dan penghakiman bagi orang lain dengan ukuran yang kita pakai, belas kasihan Allah berlaku bagi orang yang berbelas kasihan.
Aplikasi dan Refleksi : Apa saja contoh diskriminasi yang dialami oleh banyak orang dan komunitas dalam pelayanan. Refleksi di masa pandemi covid 19 tidak boleh membuat diskriminasi untuk orang dijauhkan dari pelayanan, tetapi menjadi bagian dalam pelayanan dengan teknologi dan metode online yang dapat menjangkau mereka. Rumah adalah tempat pertama untuk kita mulai melayani dan melakukan keadilan untuk edukasi bagi anak anak agar mereka tidak melakukan diskriminasi /kesenjangan bagi orang lain. Anak perempuan dan laki laki punya hak yang sama dalam pendidikan dan profesi yang mereka pilih. Kasih sayang terhadap anak anak tidak boleh dibedakan untuk menolong mereka hidup dalam menghargai dan menghormati orang lain. Gereja juga menjadi contoh dalam memberikan pelayanan tidak boleh pilih pilih. Hidup dalam kasih dan belas kasihan membuat kita menjadi kumpulan orang yang berbeda sebagai gereja yang sesungguhnya. Punya gaya hidup yang berbeda (Way of Life) karena orang beriman berbeda dengan dunia, ada dalam dunia tetapi tidak menjadi sama dengan dunia (Roma 12:2a). Menunjukan kemurnian hidup dalam belas kasihan Allah sebagai komunitas yang rapuh hari ini untuk menolong yang rapuh, memberi energi positif dan motivasi yang benar. Saya pinjam kalimatnya Mother Theresa , Agnes dari Calcuta “ Punya hati yang mengasihi dan berbelas kasihan, dan tangan yang mau melayani”, tangan kita adalah soul ‘jiwa’ untuk melakukan tarikan nafas yang sama untuk menghadirkan kerajaan Allah dalam dunia.
“selamat mempersiapkan khotbah, Tuhan yesus memberkati kita semua”.




