Bacaan : Roma 15:1-13
Shalom, apa kabar? Salam sehat buat kita semua di era New Normal. Ibu bapa pernah liat orang adu panco atau pernah coba adu panco. Dalam permainan ini yang at dia menang dan mengalahkan lawannya. Hal ini terjadi dalam perjalanan real yang nyata di hidup kita setiap hari. Siap yang kuat dia bertahan , yang lemah dia mati, hukum rimba di berlakukan disini. Yang kuat tetap hidup yang lemah dia bisa mati. Dalam era new normal kita harus lebih bijaksana dan berhikmat sehingga tidak mati konyol karena tidak taat aturan dan disiplin, sebagai gereja kita tetap harus berdiri dan menjaga kehidupan bersama.yang kuat menopang yang lemah. Kita harus mawas diri, tidak boleh membuat iman orang tidak bertumbuh. Untuk membawa kesatuan dan kerukunan, Paulus katakan kita membangun orang itu dengan ketekunan dan kesabaran.
Jemaat Roma adalah jemaat yang terbentuk dari gereja-gereja rumah. Jadi bukan hanya satu gereja, tetapi ada banyak gereja-gereja rumah yang tiap-tiap minggu orang datang berkumpul dan berbakti dan di hari-hari lain mereka berinteraksi. Paulus memberikan prinsip Kerajaan Allah, pelayanan yang sanggup menjangkau pekerjaan pelayanan sebagai satu pekerjaan Allah yang luas dan besar. Saling membangun persekutuan jemaat. Kita yang mengaplikasikannya ini disebut Paulus sebagai orang yang kuat. Kata “kuat” di dalam bahasa Yunaninya adalah dunatos yang berarti berkuasa atau mampu (powerful) disebut oleh Paulus sebagai orang yang berkuasa atau mampu. Berkuasa dalam mengerti hal-hal rohani. wajib menanggung kelemahan orang yang lemah. Kata “menanggung” dalam bahasa Yunani adalah bastazō bisa berarti mengangkat/ menanggung/membawa. Ketika kita tahu bahwa ada jemaat yang kurang mengerti atau lemah imannya, bukankah kita yang lebih kuat imannya dipanggil menguatkan mereka, bukan sok jagoan mengajar mereka dengan istilah tinggi tetapi dengan praktek hidup yang menjadi teladan dan tidak mencari kesenangan sendiri, Karena bagi Paulus, orang yang terus-menerus menyenangkan dirinya sendiri adalah orang yang egois dan tidak memiliki kasih. Orang yang egois tidak akan bisa menjadi berkat bagi sesamanya.
“Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya.” Di ayat ini, kita diharuskan Paulus untuk menyenangkan sesama kita demi kebaikannya untuk membangun. Paulus sangat teliti memakai kalimat di ayat ini. Ia tidak mengajar bahwa kita harus mencari kesenangan sesama kita, lalu berhenti. Tetapi ia menyambung dengan mengatakan, “demi kebaikannya Paulus mengatakan bahwa kita harus menyenangkan sesama kita untuk membangunnya.” sebagai edification (pendidikan moral atau pengajaran yang baik). Menyenangkan sesama tidak berarti kompromi, tetapi bertujuan untuk membina jemaat yang keberatan hati nurani itu supaya mereka bertobat dan kembali kepada pengajaran yang benar.
Mengapa kita harus menyenangkan sesama kita? Paulus memberikan dasar pijaknya yaitu teladan dari Kristus sendiri di ayat 3, “Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri, tetapi seperti ada tertulis: “Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku.””” Berarti, Kristus sendiri tidak menyenangkan diri-Nya sendiri. Kalau Kristus mau menyenangkan diri sendiri, itu tidak sulit bagi-Nya, karena Ia adalah Anak Allah, Ia bebas melakukan apa pun. Ia “membatasi” kebebasan-Nya dengan rela menanggung semua hinaan manusia berdosa yang ditujukan kepada Bapa. Ia lebih memikirkan bagaimana menggenapi kehendak Bapa ketimbang memikirkan kesenangan diri. Ia mengasihi manusia berdosa. Seperti Kristus yang telah menjadi teladan bagi umat Tuhan dengan menanggung celaan yang dilontarkan manusia kepada Bapa dengan tujuan agar umat pilihan-Nya yang termasuk di dalamnya itu diperdamaikan dengan Bapa-Nya, bertobat, dan menerima-Nya, maka kita pun sebagai anak-Nya harus menanggung kelemahan/keberatan hati nurani jemaat lain dengan tujuan agar jemaat yang lemah imannya itu boleh dikuatkan dan diajar melalui perhatian dan kasih kita yang mengajar mereka. Kita ada dalam proses pertumbuhan yang berbeda beda; ada yang masih lemah untuk berdiri, ada yang sudah kuat untuk berdiri dan berjalan. Kita dianyam dalam satu persekutuan yang utuh.
Kita tidak akan sanggup menolong orang lain dengan kekuatan kita sendiri. Tetapi karena Tuhan memerintahkan kita untuk menolong orang lain, disitu ada kekuatan dan ada berkat.
Contoh: Semalam suntuk Petrus tidak dapat ikan, tetapi karena menurut perkataan Tuhan, dia mau dan dia mendapat banyak ikan.
Yesus yang menanggung seluruh dosa kita, tetapi dia tetap mau menghibur kita. Tetaplah hidup dalam pengharapan dalam sukacita dan damai sejahtera.




