Kasih Bapa dalam pengorbanan Anak Tunggal Allah – “Pengampunan yang membebaskan”

Shalom Sahabat sepelayanan, selamat menikmati pemeliharaan Tuhan dan selamat mempersiapkan ibadat minggu bagi semua sahabat terkasih. Kita menghayati minggu sengsara 1 Tuhan Yesus Kristus. Mari kita saling melengkapi dalam menyiapkan bacaan bersama umat. Salam dan doa beserta.

Pendeta Desiana Rondo Effendy M.Th dari GMIT Moria Liliba, Klasis Kota Kupang Timur, Minggu (15/2/2026).

Renungan Minggu sengsara 1.

Bacaan Matius 18:21-35

Pengantar

Yesus mengajarkan tentang pengampunan dengan menggunakan perumpamaan orang berhutang yang tidak mau mengampuni sesamanya.

pengampunan yang diterima dari Tuhan mesti diteruskan kepada sesama manusia. kita diingatkan bahwa Allah telah mengampuni kita tanpa batas. Oleh karena itu, kita pun mesti mengampuni sesama tanpa batas.

Pengampunan bukan hanya tentang melupakan kesalahan, tetapi juga melepaskan.

mengampuni itu memutus rantai lingkaran dosa balas dendam. Bila kita tidak mengampuni orang yang bersalah kepada kita, tetapi membalas kejahatan dengan kejahatan, maka ia akan kembali kepada kita (balas dendam). Dan semakin besar masalah yang menyebabkan permusuhan

Penjelasan Teks

Matius 18: 21-35 , mengajarkan tentang kewajiban mengampuni sesama tanpa batas, berdasarkan atas belas kasih Allah yang tak terhingga kepada manusia.

Melalui perumpamaan hamba yang tak tahu berterima kasih. Apakah mengampuni sampai 7 kali sudah cukup. Yesus menjawab: “bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Ini bermakna bahwa pengampunan tidak dihitung / tidak terbatas, melainkan merupakan sebuah sikap hati dari berbelas kasihan.

besarnya hutang: 10.000 talenta dan 100 dinar.

Berat 1 talenta 34 kg, nilainya = 6000 dinar.

Berat 1 dinar 4 gram. Kontras nilai dalam berat luar biasa: 10000 X 34 = 340.000 kg dan 100 dinar x 4 gram = 400 gram = 40 kg. Beda 339.960 kg.

sikap pemberi hutang: yang memberi hutang 10.000 talenta memiliki hati belas kasihan (ay. 27).

Pemberi hutang 100 dinar tidak memiliki belas kasih (ay. 30, bnd. ay. 33).

Padahal orang yang tidak memiliki belas kasih itu sama-sama hamba (ay. 28: penghutang 10.000 talenta dan penghutang 100 dinar sama-sama hamba, jadi punya status sama dan punya tuan yang sama.

bagian dari alasan utama mengampuni Yesus tegaskan di ayat 34-35 bahwa jika kita yang sudah menerima pengampunan tidak bersedia mengampuni maka Bapa yang telah mengampuni kita karena belas kasih akan menghukum kita karena kita tidak memiliki dan mempraktekkan belaskasih yang mengampuni sebagaimana Bapa perbuat kepada kita.

Refleksi dan Aplikasi

Mengampuni itu seperti membuang sampah dari hati-pikiran dan membersihkan hati-pikiran dari kemarahan dan rencana untuk balas dendam.

Dengan membuang sampah (pikiran jahat untuk membalas) maka hati-batin lebih tenang-tentram dan mendukung hidup sehat jasmani dan rohani.

Mengampuni itu tanda kekuatan, bukan tanda kelemahan. Kuat juga termasuk kuat dalam iman, dalam kasih dan belas kasih.

Pentingnya mengampuni menjelaskan bahwa dalam hidup bersama sebagai Jemaat pun kita tetap mungkin berbuat salah kepada saudara/sesama.

Allah Bapa mengampuni kita karena KasihNya yang besar. Dalam Pengorbanan Anak Tunggal Allah kita mendapat pengampunan dan pembebasan. Mari kita belajar dari Kasih Bapa untuk menjadi anak anak bapa yang melihat pada karya Agung Anaknya tersalib dan sengsara bagi penebusan dosa kita.

Selamat menghayati minggu sengsara Tuhan Yesus.

Share your love